IBX5980432E7F390 669 Bahasa Daerah Terancam Punah, Tanda Metode Belajar yang Salah - ALIVE ZAINUL

669 Bahasa Daerah Terancam Punah, Tanda Metode Belajar yang Salah

iklan (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
669 Bahasa Daerah
Image source: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/fe/Flag_of_the_Aceh_Sultanate.png/1200px-Flag_of_the_Aceh_Sultanate.png
669 Bahasa Daerah Terancam Punah, Tanda Metode Belajar yang Salah

Cukup menarik juga apa yang dibahas dalam Lensa Indonesia Pagi yang ditayangkan RTV, tadi pagi. Dimana 669 bahasa kawasan terancam punah & hanya 10 bahasa kawasan saja yang masih aman alias cukup banyak dipergunakan. Ya itu tadi, karena penyebaran bahasa gaul yang cukup massif dikalangan generasi belia. Dalam hal ini, keliru satu presenter yang bermarga Batak, menyapa reporter yang kebetulan berdarah Batak, dengan menggunakan bahasa kawasan dari Sumatera Utara tadi.

Selanjutnya, si reporter mewawancarai dua warganya tentang bahasa kawasan, yang bersuku Jawa & Sunda. Ketika mereka berbicara dengan bahasa daerahnya masing-masing, mereka sanggup melakukannya, ya walaupun keliru satunya hanya sedikit yang menguasai. Setelah itu, pembicaraan reporter dengan presenter juga diakhiri dengan dialog dalam bahasa kawasan Batak.

Setelah menonton acara ini, saya merenung, apa yang telah saya lalui dalam hidup ini tentang bahasa kawasan. Dulu, sewaktu masih sekolah, saya ingat, saya lagi iseng-isengnya menerjemahkan suatu dialog, atau lupa apa namanya, dalam bahasa Lampung, berbekal kamus yang dulu saya punya. Padahal, saya tidak sanggup bahasa Lampung, apalagi saya terlahir bukan dari suku Lampung (berbahagialah orang yang punya darah suku Lampung & sanggup berbahasa Lampung, jadi harap tetap lestarikan ya!)

Saat saya duduk pada bangku SD, saya belajar bahasa lampung, susah banget, suruh baca aksara lampung sama latinnya, belum sanggup membedakan mana dialek A, mana dialek O, jadi baca dua-duanya. Pelajaran bahasa Lampung dengan keliru satu dialek, baru saya menyadari ketika saya duduk pada bangku SMP, & dialek yang dipergunakan, dialek O, karena saya tinggal pada Kabupaten Lampung Tengah. (misalnya ya, istilah cawa (Indonesia: berbahasa) dalam dialek A, & cawo dalam dialek O). Nah, pelajaran yang paling menarik perhatian saya waktu itu, ya kisah tentang Kayu Aro.

Semakin usang, saya mencicipi pembelajaran bahasa Lampung semakin tidak menyenangkan. Teman-teman saya juga mencicipi hal yang sama, meskipun diajarkan oleh pengajar yang kebetulan bersuku orisinal Lampung. Ketika kami naik ke kelas XI SMA & dikenalkan muatan lokal, kami merasa senang, kami sanggup memahami budaya Lampung dengan bahasa Indonesia, gak perlu bersusah payah memeriksa dengan bahasa kawasan yang berdasarkan kami sulit dipahami.

Setelah berkaca dari pengalaman saya, saya baru menyadari, saya kesulitan buat berbahasa kawasan, karena kesalahan metode pembelajaran yang dipergunakan, & diajarkan dengan kurang menyenangkan.

Disaat yang sama, sewaktu sekolah, saya sudah memeriksa bahasa asing, keliru satunya Bahasa Inggris. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, saya telah diajarkan oleh beberapa pengajar yang berbeda, dengan metode yang berbeda pula. Nah, tercetuslah dalam pikiran saya, bisakah para pengajar membarui pembelajaran bahasa kawasan menjadi lebih menyenangkan?

Ya, sanggup!

Dalam hal ini, ada beberapa cara yang sanggup diterapkan oleh para pengajar supaya para siswanya semakin mencintai bahasa daerahnya sendiri, antara lain:

1). Bika bahasa kawasan menggunakan aksara, kenalkan & hapalkan abjad kawasan menggunakan nada lagu, karena para murid, terutama anak-anak, lebih memahami informasi jikalau dilagukan. Tapi ingat, bentuk aksaranya wajib ingat juga! Bisa dengan bentuk aksara yang lebih menarik dengan digambar pada kertas karton terus diberi warna berbeda.

2). Ajak mereka buat menonton film dalam bahasa daerahnya masing-masing. Di Internet, kan sudah banyak film animasi dari negara kita sendiri juga negara asing yang telah pada-dubbing dalam bahasa kawasan. Belum lagi acara pada TV lokal yang masih menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Fungsinya, ya misalnya listening dalam bahasa Inggris, supaya pengucapan bahasa kawasan semakin lancar.

3). Biasakan buat menulis & berbicara dalam bahasa kawasan, dengan cara yang lebih menyenangkan. Bika pada sekolah, kita diberi tugas pelajaran mengarang dalam bahasa Indonesia & writing dalam bahasa Inggris, pengajar sanggup memberi tugas mengarang dalam bahasa kawasan kepada para murid. Misalnya saja ya, para pengajar memberi tugas pada murid SD buat menceritakan pengalamannya dalam bahasa kawasan, & kalau sanggup, menggunakan aksara kawasan juga. Semakin ke jenjang ke lebih tinggi, tantangan menulis para murid menggunakan bahasa kawasan dalam penulisannya, semakin sulit, misalnya menulis juga mengartikan cerita rakyat dalam bahasa kawasan. Oleh karena itu, para pengajar haruslah mengajarkan para siswanya, supaya mencintai menulis dengan senang hati, dengan metode yang menyenangkan para siswanya.

Apalagi, jikalau ada tugas buat dialog dalam bahasa kawasan. Para pengajar wajib mengajarkan, memotivasi, & membiasakan para siswanya buat berbicara dalam bahasa daerahnya masing-masing, tidak hanya pada lingkungan sekolah, namun juga pada lingkungan famili, & masyarakat, sehingga bahasa kawasan tetap lestari, terlebih jikalau para murid telah beranjak dewasa & mengajarkan bahasa kawasan kepada anak cucunya.

Selain ketiga cara pada atas, masih ada satu lagi, yaitu berkaitan dengan kitab-kitab penunjang dalam bahasa kawasan. Hendaknya desain isi bukunya lebih menarik buat dibaca para murid, apalagi murid sekolah dasar yang menyukai kitab dengan gambar, serta dilengkapi dengan gaya penulisan kitab-kitab penunjang bahasa kawasan, yang semakin renyah buat dibaca. Sehingga, para murid sanggup membaca kitab berbahasa kawasan dengan lebih menyenangkan, bukan?

Demikianlah, semoga bermanfaat. Salam Kompasiana!

---

Sumber gambar: ir0nehtc.blogspot.com

Berlangganan Untuk Mendapatkan Artikel Terbaru:

0 Komentar Untuk "669 Bahasa Daerah Terancam Punah, Tanda Metode Belajar yang Salah"